dialog waktu

Dimana dapat kutemukan rindu, yang telah letih kuanyam dibawah perdu. Dapatkah aku menemukannya diantara malam yang dalu, yang pilu karna tak temukan bias sang kunang-kunang.
Oh malaikat yang menyulam senja, sejenak saja kau ceritakan tentang sebuah epos yang tak terlupakan jaman. Sebuah Epos yang menceritakan Drupadi, yang mampu mengobati rinduku pada kebesaran cinta yang mereka agungkan kebesarannya. Lalu biarkanlah sebuah tanya terlontar secara berulang-ulang dari bibirku yang ranum, agar hausku melega, dan diakhir cerita satu lagi janji yang terucap. Sebuah janji yang kemudian terbayar oleh janji lainnya, yang mana Janji hanya akan menjadi hutang yang tak pernah dibayar…
Disanalah letak kisah yang tertanam lama oleh sejarah, yang tak pernah diketahui kebenarannya. Disanalah letak roh abadi yang merahasiakan kebenaran hingga sejarah menguburnya bersama keangkuhan sang waktu. Perempuan itu, seorang perempuan sederhana di sebuah desa terpencil di utara tanah kelahiranku. kusebut tanah kelahiran, sebab yang kuketahui sejak aku baru belajar untuk mengingat, aku telah berada di tempat itu. bersama seorang perempuan renta yang dikemudian hari kusebut sebagai dadong. Lalu dikemudian hari, kutau, dadong adalah ibu dari perempuan yang melahirkanku, yang kutau, pergi meninggalkanku ketika aku masih menjadi bayi merah..
bersama dadonglah aku belajar menembang lagu rare, belajar beberapa baca tulis sansekerta. Kemudian kenangan itu dalu begitu saja, ketika aku beranjak remaja, dadong harus menghembuskan nafas terakhirnya pada purnama kelima setelah dia bercerita tentang sebuah epos tentang drupadi di beranda pondok kami. Lalu epos itulah yang kemudian menjadikanku untuk ingin tahu perempuan yang melahirkanku…