“Para remaja, jangan pernah mendiskriminasikan seseorang karena status HIVnya, karena bila seorang ODHA didiskriminasikan, itu yang membuatnya patah semangat menjalani hidup. Peluk mereka dengan cinta. Yang dibutuhkan seorang ODHA hanya cinta dan keiklasan menerimanya ada di sekitar kalian.”
“Kini aku seorang remaja 15 tahun, hampir tak pernah di pikiranku terlintas jadi apa aku nantinya. Aku selalu menjalani tiap hariku dengan bersenang-senang bersama teman-temanku, atau menghabiskan waktu dengan bermain dengan teman-teman. Aku tak pernah memikirkan hidupku ke depannya. Hingga aku dihadapkan dalam sebuah kenyataan, ayahku meninggal di usianya yang ke 39 tahun, tepat seminggu sebelum aku berulang tahun yang ke dua belas. Dan sejak itu, aku mendapati rentetan kenyataan yang benar-benar tak bisa kuberhentikan masuk ke hidupku. Aku mengetahuinya ketika orang-orang mulai mendiskriminasikan ayahku ketika prosesi penguburannya. Tak satupun dari mereka yang berani menyentuh tubuh ayahku, jangankan untuk menyentuh, hanya untuk sekedar mengucapkan selamat jalan saja tak ada. Tak ada satupun yang berkunjung ke rumahku. Semua menstigma ayahku seorang yang kotor, dan pendosa yang hidup di tengah-tengah mereka yang suci. Dan dari itu semua aku mengetahui satu hal, bahwa ayahku meninggal karna dia positif HIV.
Setahun setelah itu, aku mendapati ibuku juga seorang HIV positif, kekebalan tubuhnya semakin lemah karna virus itu telah melumpuhkan satu-persatu CD4 dalam tubuh ibuku. Yang ada di pikiranku, hanya kematian ibuku, yang menumpahkan gelombang air mata, aku telah kehilangan ayahku, dan apa aku harus kehilangn ibuku juga.
Dua bulan yang lalu, aku memutuskan untuk memeriksakan status HIVku dengan mengikuti VCT (Voluntery Counseling and Testing), yaitu test sukarela untuk mengetahui jumlah antibody yang ada di tubuhku. Sebelumnya seorang konselor mengkonselingku tentang penularan HIV, dan apa yang seharusnya aku lakukan ketika aku mendapatkan hasil test tersebut. Ternyata hasilnya, aku positif HIV, dan aku tertular oleh ibuku yang juga seorang HIV Positif, ketika prosesi kelahiranku. Ragaku seperti terpasung dengan rantai-rantai perunggu, yang menjuntai panjang membelah lantai tanah. Tak ada asa lagi yang kuimpikan. Semuanya bercampur dengan semua penyesalan, untuk terlahir dalam kehidupan yang seperti ini. Aku sangat rapuh hanya ada bayangan kematian di hari-hariku, aku tak ingin hidup lagi, apa gunanya aku hidup, bila akhirnya toh aku akan mati. aku kehilangan segalanya, kehilangan ayah yang kucintai, dan kesempatan untuk menikmati masa mudaku, tanpa virus itu menggerogoti tubuhku, menghancurkan CD4 dalam tubuhku. Aku mengurung diriku selama dua minggu dalam kamar, tanpa ada satupun yang, menemaniku dan berbicara denganku. Satu-satunya orang yang tak pernah lelah mendorongku dan memberikan semangat-semangat padaku adalah ibuku. Dia tak pernah lelah berjuang demi hidupnya, meratapi kanyataan bahwa dia seorang HIV positif dan begitu pula aku, seorang remaja yang juga adalah seorang ODHA, dan karnanyalah aku menghapus semua kebencianku terhadap hidupku. Perlahan aku mulai menyadari, walaupun aku seorang ODHA, tapi aku tetap bisa menikmati sisa hidupku dengan bahagia. Status HIV positifku bukan alasan untukku membenci hidupku, bukan alasan untukku memilih sebuah kematian atau mengasingkan diri. Karena itu semua yang akan membatasi gerakku.
Aku tak mau menyia-nyiakan waktuku, aku tak mau di sisa hidupku, aku tak melakukan sesuatu. Hingga aku bergabung dalam sebuah LSM yang bergerak dalam bidang HIV dan AIDS. Disana ada banyak hal yang kudapati, walaupun usiaku kini akan memasuki enam belas tahun, tapi itu tak jadi masalah, karena aku mencintai kehidupanku.”
Aku adalah satu dari berjuta-juta ODHA yang mengalami stigma-stigma buruk, baik itu di lingkungan masyarakat, keluarga, atau sekolah. Ternyata, pemahaman masyarakat tentang cara penularan virus HIV masih sangat kurang, yang akhirnya membawa masyarakat menstigma ODHA. Padahal Virus HIV hanya bisa tertular melalui hubungan seksual yang tidak aman, atau berganti-ganti pasangan seksual, menggunakan jarum suntik secara pergantian, cairan air susu ibu, cairan sperma, dan cairan darah. Dan virus HIV tidak menular melalui bersentuhan, berpegangan tangan, berpelukan, menggunakan fasilitas umum, menggunakan satu alat makan dengan ODHA. Pemahaman itulah yang belum masyarakat pahami secara dalam, yang membuat mereka selalu menstigma ODHA sebagai pendosa. Aku juga seorang pendosa menurut mereka? Karna aku seorang ODHA, itu menurut mereka. Namun aku bukan pekerja seks yang sering berganti-gantian hubungan seksual, aku juga bukan pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik secara bergantian. Aku mendapati virus itu dari orang tuaku, dari rahim suci yang menopangku selama 9 bulan, dan sperma ajaib, yang membuahi sel telur ibuku, hingga aku sebesar ini.
Diusia remajaku, aku ingin berbagi untuk teman-teman remaja yang sangat minim pengetahuannya, tentang penularan virus HIV. Dan juga untuk orangtua dan masyarakat pada umumnya. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrom) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh. Berkurangnya kekebalan tubuh itu disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Virus HIV adalah jenis Parasit Obligat yang hanya dapat hidup dalam sel atau media hidup. Virus ini senang hidup dan berkembang biak dalam sel darah putih manusia. HIV akan ada pada cairan tubuh yang mengandung sel darah putih seperti darah, cairan plasenta, air mani atau cairan sperma, cairan sumsum tulang, cairan vagina, air susu ibu dan cairan otak.
Penularan virus ini biasanya terjadi juka ada percampuran cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti hubungan seks tidak aman dengan pasangan yang mengidap HIV, Jarum suntik dan alat-alat seperti tato, tindik dan cukur yang tercemar HIV, transfusi darah atau produk darah yang mengandung HIV dan ibu hamil yang mengidap HIV pada janinnya atau bayinya, seperti aku. Namun aku tak pernah menyesali, karena bila aku menyesalinya, aku tak mencintai diriku sendiri, aku tak mencintai kehidupanku.
“Pesanku untuk para remaja, jangan pernah mendiskriminasikan seseorang karena status HIVnya, karena bila seorang ODHA didiskriminasikan, itu yang membuatnya patah semangat menjalani hidup. Peluk mereka dengan cinta. Yang dibutuhkan seorang ODHA hanya cinta dan keiklasan menerimanya ada di sekitar kalian.”




