Posted by: wangi suryati | August 10, 2008

Sepeggal Kisahku…

Bagiku, usia sepuluh tahun terlalu cepat untuk menelan segala kepahitan hidup. Bertui-tubi dan aku terbawa arus menuju dermaga yang tak ku kenali, satu yang bisa ku lakukan, bertahan hidup dengan semua kepahitan yang ku jalani dan kenangan tentang mereka…

Kisahku berawal saat usiaku lima tahun, entah apa yang membuatku begitu mencintai lekuk tubuh yang terpantul di cermin. Aku juga mencintai mata bundar yang bersinar itu. Aku mulai mencintai semua bayangan yang terpantul dari diriku di cermin.

Aku tak pernah mengenal sosok ayah, kata ibu, ayah sudah meninggal saat aku masih dalam kandungan. Ibu bahkan tak pernah memperlihatkan foto ayah. Tiap kali aku bertanya tentang ayah, ibu selalu mengunciku di kamar mandi dan memperbolehkan aku keluar saat aku berjanji tak akan bertanya tentang ayah.

***

Namun ketika usiaku semakin bertambah, hidupku mulai berubah, ibu tak mau menyekolahkan aku lagi, dengan alasan ”hanya membuang-buang uang saja” Beberapa pukulan telah meninggalkan bekas di tubuhku. Bibirku juga tak lagi semerah dulu, ada bekas luka di sudut bibirku, dan rasanya begitu perih.

Ibuku tak lagi seperti dulu, ibuku berubah menjadi pemabuk. Beberapa kali, aku melihatnya bersama laki-laki tua, yang lebih pantas kusebut kakek. Tapi keesokan harinya, ketika dia terbangun dari tidurnya, dia seolah menganggap tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Ibuku tak pernah membiarkan aku tidur bersamanya, ibuku selalu menyuruhku untuk tidur di luar dengan beralaskan tikar pandan, dan aku tak pernah mengeluh, karena aku takut, ibuku memukuliku dengan ikat pinggang kulit yang ia punya. Dia juga beberapa kali menyiram tanganku dengan air panas mendidih, ibuku berubah baik keesokannya. Dia juga memakiku dengan kata-kata yang tak layak dilontarkan oleh seorang ibu. Satu kata yang masih menari-nari di otakku, bahwa ”aku anak haram”, di usiaku yang sepuluh tahun aku tak mengerti apa sebenarnya arti kata itu.

Sebenarnya aku ingin menangis, tapi tiap kali air mata menetes, ibu malah menjambak rambutku dengan jemarinya, dan membekap muluku dengan sandal jepitnya.. Aku muak dengan perlakuan ibuku terhadapku, namun. aku hanya bisa menunduk di sudut ruangan sambil menutup wajahku dengan sepuluh jariku, mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut wanita itu.

Pernah, suatu ketika ibu tak pulang pada malam hari, aku menunggunya hingga tengah malam, paginya aku dikejutkan karena ibu pulang dengan kondisi mabuk berat dan melempari pintu rumah dengan botol minuman. Masih bisa kulihat dandanan menor kemarin. Aku membaringkannya di atas kasur sambil mengelap tubuhnya dengan handuk basah. Tiba-tiba ibu memukuliku dengan tangannya, aku kaget, aku merasa aku tak berbuat salah. Ibu memakiku dengan kondisi tidak sadar, sampai akhirnnya, sesuatu yang ku inginkan terjadi, aku tau satu hal, aku bukan anak kandung ibu, bukan darah daging wanita yang ada di hadapanku.

Aku berlari keluar rumah dengan membawa dukaku, ternyata ini alasan wanita itu memperlakukanku. Aku bukan darah dagingnya. Dan aku anak temannya sesama pelacur. Ya… ibuku juga seorang pelacur. Sama seperti wanita itu, dan itu alasan kenapa dia selalu bekerja pada malam hari dengan pakaian seksi dan dandanan menor. Rasanya ingin menangis, tapi untuk apa aku menangis, toh aku tau yang sebenarnya. Aku mengelap air mata yang membasahi pipi mungilku. Aku terus berjalan menuju taman kota, disitu aku dapat melihat banyak hal, berusaha melupakan apa yang terjadi di rumah.

Hari semakin malam, aku masih belum berani untuk pulang ke rumah. Aku melihat langit sangat pucat, tak ada bintang, sesaat kemudian, aku tak sadar, seseorang telah berdiri di sampingku sambil memegang bahuku. Aku kaget, wanita itu ada di sampingku, sambil berdiri dengan tatapan lembut. Dia duduk di sampingku, dia juga sempat mengelus rambutku dengan hangat.

“Clara, kenapa kamu nggak pulang sayang, ibu khawatir denganmu” wanita itu menatapku. Aku tak berani menatap mata bundarnya, aku hanya menunduk “Clara kamu pulang ya sayang, ibu sudah membuatkanmu air hangat untuk mandi.” Aku tetap menunduk, wanita itu menarik tanganku dan memelukku. Dia menangis, entah karena apa, tapi yang kutau, dia memelukku sambil menangis. Aku mulai berani menatap matanya, rautnya terlihat begitu menyesal, aku mengusap air mata yang menetes di pipinya.

“Maafkan aku Clara, aku tak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. aku tak bisa mendidikmu dengan baik, ibumu pasti menyesal menitipkanmu padaku.” Wanita itu menggenggam tanganku, aku mulai mengerti apa yang terjadi, tapi kenapa aku mendapati ini semua di usiaku yang sepuluh tahun, usia dimana sepantasnya aku bermain dengan teman-temanku, dimana aku seharusnya mendapat sebuah kasih sayang, tapi apa….!!! Semua yang kurasakan bertubi-tubi tanpa kenal usiaku yang sepuluh tahun.

Ibu…, maksudku wanita itu, memopang tubuhku menuju gubuk kecil dekat sungai, dia membersihkan tubuhku dengan lap basah, lalu menyisir rambutku. Wanita itu mulai menceritakan semuanya, ya… ibu kandungku seorang pekerja seks, dan wanita itu adalah sahabatnya. Ibuku seorang wanita yang cantik, dia primadona di masanya, hanya saja, karena kebodohannya dia tak tau dirinya seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), dan ada janin di rahimnya. Ibu meninggal saat aku dilahirkan, dia mengalami pendarahan yang hebat, dan akhirnya dia tak kuat lagi untuk bertahan hidup. Wanita di sebelahku menangis menceritakan kematian sahabatnya yang tak lain adalah ibuku. Dia menyesal karena menceritakannya padaku di usiaku yang masih sepuluh tahun. Aku belum cukup usia untuk mendengarnya, aku juga belum cukup usia untuk mendapati diriku, mungkin aku juga penderita AIDS, sama seperti ibuku.

Aku tak tahan lagi, akhirnya aku juga menangis sejadi-jadinya, hingga semua luapan itu menjadikan sebuah luka kecil di hatiku. Aku memeluk wanita itu, wanita yang telah merawatku hingga sepuluh tahun.

***

Aku tak pernah tau, apa aku seorang penderita AIDS atau tidak, tapi aku yakin penyakit itu ada di tubuhku. Hingga usiaku dua puluh satu tahun, sebelas tahun setelah aku mengetahui sebuah rahasia di hidupku. Aku juga semakin tau, kekebalan tubuhku tak berfungsi dengan baik, virus itu perlahan menggrogoti tubuhku, membuatku semakin hari semakin lemah. Ya… aku seorang ODHA(Orang Dengan HIV AIDS).

Aku hanya bisa menunggu kematianku, aku tak lagi bisa berjalan dengan benar, aku hanya bisa duduk di kusi roda, dengan segala kesedihan yang ku pendam. Kematian selalu membayangiku. Aku juga tak lagi tinggal dengan wanita itu, beberapa tahun yang lalu, dia meninggal dunia karena penyakitnya, dia juga seorang ODHA, dan aku tau itu setelah sehari kematiannya. Dia meninggal dengan sangat cantik, dengan gaun putih yang ia kenakan, dan liontin mawar yang ia genggam. Walaupun wanita itu pernah memperlakukanku dengan kasar, tapi aku tau, ada alasan kenapa wanita itu seperti itu. dia terlalu sedih dengan kematian ibuku. Dia tak kuat melihatku yang semakin besar, mempunyai wajah yang mirip dengan ibuku. Dia tak pernah membiarkan aku menangis, karena tangisku mengingatkannya pada ibuku, dia juga tak pernah menceritakan tentang ayahku, karena laki-laki itu tak mau menikahi ibuku, saat dia tau ada janin di rahim ibuku. Bahkan dia menjual ibuku pada laki-laki lain. Itu yang membuatku selalu memukuliku. Wanita itu tak pernah membiarkan aku tidur bersamanya, karena dia tak ingin melihat wajahku saat terlelap. Sampai pada kematiannya aku hanya tau dia menderita penyakit kelamin, karena aku bisa mencium bau amis tiap kali berada di dekatnya. Tapi aku tak pernah tau dia penderita AIDS, aku tak pernah tau begitu malang nasibnya, ditinggal sahabatnya, menderita penyakit menular seksual, dan yang terakhir, dia meninggal karena AIDS.

***

Aku tak pernah menyesal terlahir dari rahim seorang pekerja seks, aku juga tak pernah menyesal terlahir tanpa aku tau wajah ayah dan ibuku, aku bahagia mengingat kenangan mereka, aku bisa merasakan mereka mengalir di darahku. Namun satu yang kusesali, aku terlahir dengan waktu yang terbatas, tanpa bisa menikmati setitik cinta.

Kisahku berakhir saat surya menenggelamkan dirinya, digantikan oleh kegelapan malam yang menyimpan cerita setiap pesakitan. Aku menyenderkan tubuhku di kursi roda, aku tak lagi bisa mendengar detak jantungku, aku telah hilang bersama waktu…

”Ibu, ketika waktu menjemput seluruh nafasku, aku ingin kau tau, aku tak pernah menyesal terlahir dari rahimmu, karena aku mencintaimu… dan ijinkan aku untuk terbaring di sisimu, menemanimu…”

Anakmu 21 tahun

(Clara Rineva)


Responses

  1. Bikin blog?? Ok juga…..
    cuma, klo bisa posting berita yg up to date. jgn terlalu panjang (biasanya pembaca cenderung bosen liatin tulisan yg buanyak bgt). klo buat cerpenmu mungkin bikinkan folder khusus spt “kumpulan cerpenku” atau apalah, supaya ga nyampur sama berita yg up to date.
    klo ada joke jg bagus tuchh…
    belajar yg rajin ya, supaya ntar jadi bloger jempolan.
    SUKSES !!!!


Leave a response

Your response:

Categories