Posted by: wangi suryati | August 10, 2008

Ketika kasta Mengalahkanku…

Aku tersudut dalam ketidakwarasanku, mencintai dia yang telah menjadi milik orang lain, tanpa aku sadari, ketidakwarasankulah yang membuatku terjatuh terlalu dalam.

Mereka kata aku terlalu munafik karena tak menyadari cintaku berawal dari sebuah benci, aku mulai menyukai kepribadiannya, dan segala aura yang dia punya. Hingga saat ini, perasaan itu masih tetap sama, seperti ketika aku diam-diam merindukannya diantara ego-ego kita. Namun aku menyadari, perlahan cinta membias di antara kita, merambati tiap sel-sel yang menyusun hatiku, hingga membentuknya dalam sebuah tabung kerinduan, aku mengakui, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Karena cinta pula, aku menomor duakan akal sehatku. Tak ada yang bisa mengubah takdir. Aku ataupun dia. Entah dari mana, ketika akal sehatku mulai bergeser, aku mendapati kenyataan bila aku tak seharusnya memiliki sosoknya. Derajat yang membedakan kita. Aku dan dia terlahir di keluarga yang berbeda, dengan kasta yang berbeda, yang mengharuskan aku untuk memutuskan satu hal, yaitu, merelakannya bahagia bersama orang lain. Walaupun aku tau pasti, dia tak sepenuhnya bahagia.

Hari ini, aku bahkan tak bisa menatap mata bundarnya yang indah, karna dia sedang menangis. Aku hanya terpaku menatapnya dari balik kerudung merah jambunya. Dia menangis sesegukan. Ini yang dia lakukan tiap kali pertemuan kita. Menangis dan menangis, seakan dia menceritakan semua kepedihannya padaku. Aku bimbang, dia menangis di hadapanku, dan aku tak tau apa yang harus aku lakukan padanya. Dia wanita tercantik yang hadir di hari-hariku, membawakan aku segenggam cinta dari sebuah benci. Dia wanita tercantik yang pernah kukecup keningnya, dan aku merasa sempurna ketika dia memelukku dengan cintanya. Namun aku tak lagi bisa melihat wanitaku yang cantik, dengan senyumnya yang memperlihatkan lesung pipi indah itu. Semuanya hanya sebuah kenangan, bersama butiran air mata yang menetes dari kelopak matanya.

Kadang aku sedikit menyesal karena keputusanku, aku mencintainya, tapi aku membiarkannya menangis karena orang lain. Namun apa dayaku, aku telah tercebur dalam sebuah jurang, namun aku tak bisa menggapai ranting untukku sebagai pegangan. Yang bisa kulakukan, hanya tetap mencintainya dalam semua kepedihanku. Entah aku masih waras atau tidak, dan entah aku masih memakai akal sehatku atau tidak, aku harus tetap bertahan. Walaupun nadiku membeku sekalipun. Karena ketika hidupku lelah untuk bertahan, semuanya akan sia-sia.

Aku berbicara tentang cinta, bahwa kadangkala sebuah cinta adalah sebuah kerumitan, antara memilih takdir dan akal sehat, namun ketika cinta memilih takdir, apakah cukup hanya dengan keiklasan, tanpa didasari dengan akal sehat. Tak ada yang salah dengan kasta, namun akan menjadi masalah ketika sekeliling tak inginkan cinta itu ada, hanya karena perbedaan kasta. Dan oleh itu, yang terucap hanya satu, bertahan untuk menghadapinya, walaupun kadangkala ketidakwarasan menyertai.


Responses

  1. wauuu


Leave a response

Your response:

Categories