“Kau membuatku belajar tentang arti hidup, bahwa hidup tak hanya bertahan untuk mengisi perut saja, tapi bagaimana mencintai kehidupan bukan semata karna terpaksa untuk menjalaninya, bagaimana mencintai kehidupan karna ada ketulusan di hati ini. Dan saat kau pergi, aku tak akan menangisinya, tapi belajar untuk menerimanya.”
Ketika itu, entah apa yang terjadi padaku, rasanya aku ingin muntah tiap kali aku melihat bayanganku di cermin itu. Aku membenci diriku sendiri, dan semua yang ada di diriku. Kadang aku lelah dengan semua hal yang menghampiriku, dan menghakimiku menyebutku seorang Waria. Aku memang Waria, dan aku juga adalah laki-laki. Tapi kenapa mereka menudingku orang yang paling hina di muka bumi, salahkah menjadi seorang waria?. Aku juga makhluk ciptaan tuhan, dan diberikan tubuh secara sempurna. Aku hanya tak memiliki uang untuk mengisi perut. Aku hanya ingin bertahan hidup sampai waktu ku benar-benar habis. Aku punya alasan yang cukup logis untuk menjadikan diriku seorang waria.
Aku juga benci dengan keluargaku, mereka tak pernah mau sadar akan apa yang aku inginkan, mereka selalu memaksa kehendakku untuk menjadi apa yang mereka mau. Aku muak dengan mereka, mereka selalu menuntutku menjadi seseorang yang sempurna di mata mereka. Tapi apa mereka pernah berfikir, apa yang sebenarnya aku inginkan. Sampai saat itu benar-benar datang, ketika aku melarikan diri dari rumah itu, neraka yang membuatku seperti boneka yang digerakkan dengan remote control. Aku pergi dari rumah itu, dan tak ada seorangpun yang tau, tak ada seorangpun yang berusaha mencariku. Satu pun dari mereka tak peduli padaku, mereka mengganggapku sudah mati, dan aku tak peduli dengan mereka, mereka tak benar-benar mengharapkanku hadir dalam kehidupan mereka.
Sampai aku menemukan kehidupan baruku, kehidupan yang tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Aku menjadi seorang waria, yang menjajakan diri dengan om-om bermobil yang ingin dipuaskan. Aku menyadari apa yang kulakukan, cukup membuat daftar dosa-dosaku semakin bertambah. Tapi aku ingin tetap hidup. Mengisi perutku.
Aku ingin melepaskan pekerjaan kotor ini dalam hidupku, dan mulai mencintai seorang wanita. Tapi, tak mudah bagiku untuk melepaskan pekerjaan ini, aku merasa nyaman dengan pakaian-pakaian wanita yang kukenakan. Aku mulai terbiasa bersikap seperti wanita. Tapi aku bosan tiap kali aku berjalan di gang kecil menuju kontrakanku, semua mata seakan-akan menelanjangiku dengan tatapan menghakimiku, bahwa aku manusia penuh dosa. Aku ingin mereka memandangku dengan tatapan lembut yang biasa mereka berikan pada laki-laki lainnya.
Rasanya sudah tak ingin lagi aku melihat wajahku, tiap kali aku melihat, aku ingin memaki diriku sendiri. Menyesali hidupku yang menjadikan semua orang membenciku. Hanya demi mengisi perut, aku harus mengorbankan harga diriku. Aaaaaaaaaarrrrrrrrrggggggghh…. Aku muak… aku ingin menjalani hidupku dengan normal. Aku ingin menjadi laki-laki seutuhnya.
***
Ada hal yang tak pernah aku sadari sebelumnya, ketika seorang wanita diam-diam mencintaiku. Dia mencintaiku hanya dengan menatapku dari kejauhan, aku tak pernah tau, aku sudah mencuri hatinya.
Tuhan menciptakan begitu eloknya mahkluk itu, dengan lekukan tubuh yang sempurna. Namanya Zena, wanita pertama yang tersenyum padaku. Wanita pertama yang segan duduk di sampingku hanya sekedar mengobrol. Dia sangat cantik, aku menyukai caranya berbicara, terkesan sangat jujur. Semenjak itu kami sering kali bertemu, hanya sekedar duduk, menceritakan kisah-kisah yang membuat perut terkocok karena tertawa. Zena tak memandangku sebagai waria, itu yang kusuka darinya. Zena memandangku sebagai seorang laki-laki yang bekerja demi menyambung hidup. Entah apa yang membuatku mencintainya, ya… aku jatuh cinta. Tapi aku sadar, ada keterbatasan di antara kita.
***
Cinta itu telah datang, walaupun cinta itu datang bukan pada waktu yang tepat, namun aku sadari, ketika cinta itu telah memilihku, aku tak bisa menghindarinya. Kecuali aku memaksa untuk membunuh perasaan itu. Zena memberiku sebuah harapan baru, harapan untuk memperbaiki hidupku. Aku terjatuh begitu dalam, hingga aku tak bisa lagi untuk memanjatnya. Aku telah jatuh cinta pada seorang gadis. Aku memang gila, dan semakin gila ketika kenyataan berkata berbeda, aku tau satu hal Zena tak punya banyak waktu lagi. Ada tumor ganas di otaknya.
Aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan, satu-satunya harapan yang tersisa, hilang tak tersisa, ketika semua yang terindah berubah menjadi duka dalam hidupku. Seorang waria malang yang jatuh cinta dengan gadis yang berbeda dunia, dan ternyata gadis itu tak punya banyak waktu untuk hidup. Apa dunia ini ada hanya untuk mempermainkanku?
Hingga saat itu datang, saat detak jantungku berdetak melambat, aku tak ingin sesuatu terjadi padanya, aku hanya ingin keajaiban yang mengubah sandiwara yang ia perankan, tapi sayangnya ini bukan adegan film. Aku takut bila harus kehilangan dia, aku takut, ketika dokter memfonisnya tak akan bertahan lebih lama. Entah apa yang terjadi padaku, aku menjadi lebih lemah dari sebelumnya, aku tak lagi menjadi diriku yang sebelumnya, karna aku mencintai seorang gadis.
***
Kehidupan tak pernah memihak siapa yang harus menemukan kematian terlebih dahulu, ya… akhirnya dia yang menemukan kematian itu terlebih dulu, dan meninggalkanku untuk melanjutkan kehidupanku. Aku tak pernah menyesali menjadi seorang waria, karna itu yang membuatku menemukan arti hidup yang sebenarnya. Arti hidup yang membuatku melepas pekerjaan itu tanpa beban. Namun satu hal yang belum kulakukan dalam hidup ini, mengungkapkan rasa cintaku padanya. Hingga kematiannya, dia tak pernah tau bila aku sangat mencintainya.
“Kau membuatku belajar tentang arti hidup, bahwa hidup tak hanya bertahan untuk mengisi perut saja, tapi bagaimana mencintai kehidupan bukan semata karna terpaksa untuk menjalaninya, bagaimana mencintai kehidupan karna ada ketulusan di hati ini. Dan saat kau pergi, aku tak akan menangisinya, tapi belajar untuk menerimanya.”
“Zena kamu tau satu hal, mungkin aku bukan orang pertama di hidupmu, tapi kamu orang pertama di hidupku yang merubah semua kehidupanku.
Aku sangat mencintaimu….”





Posted by sophiebarat on February 25, 2009 at 1:25 am
wew… very touching man…
good job! keep writing..
Posted by Krizalid on September 23, 2009 at 8:18 pm
Uhh…kacian sekali ya Dya…
Disaat Cinta datang, tp pergi begitu cepat karena sesuatu yang tak diinginkannya terjadi
Buat kamu, yang sabar ya…
Jalani hidup ini apa adanya