Posted in Mozaik on January 26, 2009 by wangi
***
akhirnya aku berhasil menemukan mozaikku november 2008. setelah seorang teman yang sedang jenuh menanti pelajaran pak by pass, dan tidak sengaja mengutak atik isi komputer lab…
yah… ketemu deh akhirnya…
mungkin esok ini hanya sebuah kenangan…
sedikit menyesal ada si tempat ini. tapi itu bukan sebuah alasan untuk lelah menjalani hidup… aku berada di tempat ini, belajar untuk sebuah makna yang tak pernah kuketahui…
belajar untuk menjadi jiwa dewasa.
mungkin aku sangat menyesal bersekolah di tempat ini, tapi aku tak pernah menyesal dengan apa yang telah aku lakukan…
aku telah berusaha mempertaruhkan hakku…
create by: gayungpatah.wordpress.com
Posted in sebuah Cerita on January 8, 2009 by wangi
![]()
Ditempat ini, aku menatap lembayung yang melukiskan segala gundah yang tersimpan. Kuakui, hati ini terasa sangat sakit dengan semua yang terjadi. Aku hanya bisa menangis, memenuhi cawan kekecewaanku. Entahlah… aku tak tau, mungkinkah hatiku akan baik-baik saja…. kini aku mematung di sini, dan mengumpulkan mozaik-mozaikku yang rapuh oleh sang badai.
Posted in sebuah Cerita on January 3, 2009 by wangi

***
Kata orang, hidup bagaikan sebuah roda, berputar, dan kita tak pernah tau kapan kita berada di deretan teratas, dan kapan kita berada di deretan terbawah. Namun bagi seorang kakek berusia senja, hidupnya bukan hanya bagaikan sebuah roda, tapi hidupnya bergantung dengan bagaimana roda yang beliau kayung menelusuri jalan setapak dan membelah teriknya sang surya. Orang-orang sering menyebutnya kak Man, karena dia merupakan anak ketiga, dan dalam bali, menyebut anak ketiga dengan sebutan Nyoman.
Di usianya yang senja, semangatnya untuk terus menghidupi keluarga, telah mengukir urat-urat di sepanjang betisnya, dan menandakan begitu getirnya kehidupannya. Dia tak memiliki seorang anakpun, namun itu tak menjadi pematah semangatnya untuk terus mengayuh sepeda tuanya.
Mungkin itulah sebuah kehidupan, abstrak, namun dibalik itu, kita mempelajari sesuatu yang tak pernah dimengerti. Usia… boleh saja senja, namun semangat harus tetap berkobar, memenuhi celah-celah sempit yang tak terjangkau oleh nalurimu. Kak Man salah satunya, ketika banyak orang, berusaha untuk kematiannya, liatlah sosok kak Man, tetap bertahan untuk hidupnya, menatap senja, dengan semangat dan cinta…
“Terkisah dengan sendiri, ketika bangun tidur, dan menemukan potongan mozaik tentang seorang kakek tua-WAN/GI,Desember 15.2008-”
Segores pena untuk asep
Posted in sebuah Cerita on December 24, 2008 by wangi
***
aku memahami sesuatu, ketika aku bertemu dengan seorang bocah, yang melantunkan senandung lara dalam pilunya kehidupannya, Dia seorang bocah yang berperawakan kumuh, dengan sendal jepit kebesaran yang tegopoh-gopoh memangku box kayu besar, dan di dalamnya terdapat peralatan untuk menyemir sepatu. aku mendekatkan diriku pada bocah itu, dan beberapa saat aku mengobrol dengannya. aku tau sesuatu, namanya Asep dan usianya sekitar 7 tahun. dan dia sangat ingin menjadi eksekutif muda di sebuah perusahaan. asep memiliki seorang adik perempuan berumur 4 tahun, sedangkan kedua orangtuanya telah lama meninggal karena kecelakaan. kini asep harus menopang kebutuhan adiknya, bocah 7 tahun yang harusnya bersekolah kini harus berkeliling kota denpasar untuk menyemir sepatu. namun semangatnya membuatku selalu ingin berada di tempat itu, dimana dia tersenyum lebar sambil mengelap sepatu pelanggannya hingga deretan giginya terpantul jelas, di sepatu pelanggannya. hari ini, aku bahkan tak temukan lagi senyum itu, semangat itu kini hilang, yang tersisa hanya sebuah pengharapan kosong, bahwa asep akan kembali, menemaniku duduk si bangku panjang ini. beberapa hari yang lalu, aku mengetahui dari seseorang, bahwa akep dan adiknya telah diadopsi oleh seorang keluarga dari batam. Aku belum sempat memberikannya toples harapan , yang aku janjikan padanya. kini aku kembali sendiri… menatap birunya sang angkasa, dan kejamnya sebuah hidup.Sepenggal cerita tentang dia
Posted in Sepenggal Kisahku on December 12, 2008 by wangi

akhirnya mom nikah juga…
Jangan lupain kita ya mom, kita pasti bakalan kangen banget sama ocehannya mom, kita pasti bakalan kangen waktu dipergoin telat, waktu ditauin mau ngabur dari jam pelajaran. Waktu mom marah-marah gag jelas tiap dimarahin kepsek, gara2 ulah kita, kita kangen waktu kita diajarin matematika tapi kita gag ngerti2. Kangen banget waktu mom marah besar, waktu kita ngerencanain suatu hal, yang kayaknya udah mengancam satu sekolahan. Huh… mom aku kangen banget, suasana waktu kita lagi siaran bareng, ekskul bareng… kira2 setelah mom nikah, bisa gag ya lagi…
aku bakalan sedih, kalo tiba2 kita gag bisa kaya dulu, sedih-bahagia waktu aq tau, diem2 mom ngamatin apa yang aq lakuin, sedih… waktu tau mom sakit dan mom bilang, hidup mom gag lama lagi.
sekarang mom pasti bahagia, kakak ketemu gede, sekarang udah ngajakin merid… aq ikut seneng…
waterBOOM…. tiiiiiiit…..
Posted in jalan-jalan on December 12, 2008 by wangi

Pengen liburan ke sini lagi… pengen maen boomerang lagi, walaupun bikin pusing, yah…
Posted in sebuah Cerita on November 25, 2008 by wangi
“ibu… aku ingin menjadi temanmu… bukan anak yang tiap hari menjadi seorang yang kau diami tiap pagi, mari kita berubah untuk hari-hari yang lebih bahagia esok… aku sangt mencintaimu, dan aku ingin kaumenyadari itu…”
“Sajak kepasrahan”
Posted in Sepenggal Kisahku on November 23, 2008 by wangiAku menatap pantulanku di cermin usang itu, tampaknya kali ini kekalutan telah memasukiku hingga aku tak lagi temukan udara segar dalam pijakanku. Semua yang kuanggap benar semula, telah menjelma bagai hitam yang sudutkan aku dalam ketidakpastian. Aku melangkah pada titi yang salah, hingga aku terseret arus yang suluk di bawahnya.
kini segalanya telah lenyap, aku hanya bisa menatap satu persatu ragaku yang terpantul lemah, di cermin itu… aku menyesal.
“Siapapun bantu aku tuk temukan cahaya”
Si Peri Bersayap Tangi
Posted in 1 on November 20, 2008 by wangi
Senja telah tergantikan oleh sang kegelapan, namun hingga kini… peri bersayap tangi tak mau melepaskan memoarnya tentang pemuda bermata setenang telaga, yang ia jumpai tadi. Read more »








